
Jambi,– Ketua Program Studi Magister Tadris Bahasa Inggris Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, giat melakukan penelitian lapangan di kawasan hutan lebat Jambi, yang dihuni oleh Suku Anak Dalam (SAD). Penelitian yang tengah digarap oleh ibu Dr. Zarfina Yenti, M. Ag tidak hanya fokus pada kajian linguistik dan budaya, tetapi juga menggali ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup suku ini, khususnya terkait dengan dampak deforestasi terhadap bahan baku obat tradisional yang selama ini menjadi bagian integral dalam kehidupan mereka.
Suku Anak Dalam dikenal sebagai masyarakat adat yang bergantung pada hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk penggunaan berbagai tanaman liar sebagai obat tradisional. Namun, dengan pesatnya laju deforestasi di Jambi, ekosistem hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka terancam punah, sehingga berisiko mengurangi akses mereka terhadap bahan baku obat yang mereka andalkan.
Ancaman Deforestasi Terhadap Kehidupan Suku Anak Dalam
Ibu Dr. Zarfina Yenti, M. Ag mengungkapkan bahwa salah satu tujuan utama dari penelitiannya adalah untuk memahami bagaimana deforestasi memengaruhi keberlanjutan budaya dan kesehatan Suku Anak Dalam. Suku ini telah lama mengandalkan berbagai tanaman hutan sebagai bahan obat untuk mengobati berbagai penyakit, namun sekarang semakin sulit untuk mendapatkan tanaman-tanaman tersebut akibat kerusakan hutan yang terus berlangsung.
“Seiring dengan semakin terbatasnya akses mereka terhadap hutan, banyak ramuan obat tradisional yang selama ini digunakan oleh Suku Anak Dalam mulai menghilang. Ini jelas menjadi ancaman besar bagi mereka, terutama dalam menjaga kesejahteraan dan kelangsungan hidup mereka,” jelas Dr. Zarfina.
Suku Anak Dalam sendiri dikenal dengan pengetahuan lokal yang kaya akan penggunaan tanaman obat, yang telah diwariskan turun-temurun. Namun, semakin berkurangnya luas hutan akibat deforestasi untuk pertanian dan industri membuat banyak spesies tanaman yang dulunya mudah ditemukan kini langka.
Penelitian Multidisiplin: Linguistik, Budaya, dan Ekologi
Penelitian yang dilakukan oleh ibu Dr. Zarfina juga melibatkan pendekatan multidisiplin, menggabungkan kajian linguistik dengan pengamatan terhadap aspek ekologis dan budaya suku tersebut. Salah satu fokus utama penelitian ini adalah untuk mendokumentasikan bahasa Suku Anak Dalam, yang kaya akan kosakata yang berhubungan dengan tanaman obat, serta memetakan perubahan cara hidup mereka akibat krisis lingkungan.
“Bahasa mereka sendiri sangat terkait dengan alam, dan banyak kata yang digunakan untuk merujuk pada tanaman obat. Tanpa adanya upaya pelestarian terhadap hutan, bahasa ini juga bisa punah karena banyak kata akan kehilangan relevansinya,” tambah Ibu Kaprodi Dr. Zarfina.

Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menyusun rekomendasi kebijakan bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk melindungi hutan dan keberlanjutan budaya masyarakat adat, termasuk Suku Anak Dalam. Salah satu langkah yang disarankan adalah mengintegrasikan pengetahuan tentang tanaman obat dalam program pendidikan kesehatan dan lingkungan yang lebih luas.
Harapan Penelitian: Pelestarian Budaya dan Lingkungan
Kaprodi Ibu Dr. Zarfina berharap, hasil dari penelitiannya dapat memberikan wawasan penting mengenai hubungan antara pelestarian alam dan keberlangsungan budaya masyarakat adat. “Pengetahuan tentang obat tradisional dan penggunaan tanaman obat yang dimiliki Suku Anak Dalam tidak hanya penting untuk mereka, tetapi juga bagi dunia ilmiah dalam memahami potensi sumber daya alam Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati,” tuturnya.
Lebih lanjut, beliau menyatakan bahwa penelitian ini juga bertujuan untuk membuka dialog yang lebih luas mengenai pentingnya keberlanjutan alam dan bagaimana masyarakat adat dapat berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan. “Masyarakat adat seperti Suku Anak Dalam memiliki pengetahuan yang sangat berharga dalam hal pengelolaan alam secara berkelanjutan. Kami ingin penelitian ini dapat menjadi jembatan bagi peningkatan kesadaran tentang pentingnya menjaga hutan untuk masa depan kita bersama.”
Kesimpulan

Penelitian yang dilakukan oleh Kaprodi Ibu Dr. Zarfina Yenti, M. Ag tidak hanya memberikan wawasan tentang kehidupan Suku Anak Dalam dan bahasa mereka, tetapi juga menyoroti ancaman serius yang dihadapi oleh masyarakat adat akibat deforestasi. Dengan melibatkan pendekatan lintas disiplin, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi penting dalam upaya pelestarian hutan dan budaya lokal, serta mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat adat.ibu